Cerita Misteri Anak Ayam Tumbal Pesugihan

Cerita Misteri Anak Ayam Tumbal Pesugihan- “Hidup gini konsisten ya, To. Sikil nggo endas, endas nggo sikil kerja keras tiap hari nggak ada perubahan. Gimana kalau kami pergi ke area Mbah Kuncen nyari pesugihan?” ajak Surip pada temannya, Parto.
Pasang Bola

“Hooh, lah. Wis bosen urip mlarat terus. Nyong milu wae!” Parto pun bersedia mengikuti ajakan sahabatnya sejak kecil yang mempunyai pekerjaan sebagai petani.

Sebenarnya Parto tidaklah miskin-miskin amat. Ia menikahi Warsih, cucu dari Mbah Glondong Kamawi, tokoh berpengaruh di desanya hingga tentu miliki warisan tanah yang cukup luas.

Akan tetapi, musim paceklik menyebabkan tanahnya tak cukup menghasilkan padi. Bahkan singkong yang sanggup dipanen hanyalah singkong slendro, sejenis singkong beracun yang wajib lewat pengolahan panjang supaya sanggup dijadikan tiwul untuk makan keluarganya.

Keesokan harinya dua petani itu pergi ke arah selatan, ke area Mbah Kuncen, juru kunci area keramat itu berada. Sesampainya di sana, Surip dan Parto pun mengungkap keinginannya untuk memperoleh kekayaan.

“Sampean kabeh wis kemauan temenan njaluk pesugihan?” Juru kunci tua itu menanyakan kembali maksud dua laki-laki itu jauh-jauh singgah ke rumahnya.

“Sampun, Mbah,” jawab Parto dan Surip serempak. Tekad mereka telah bulat untuk mengakhiri kemiskinan yang membelenggu kehidupan mereka.

“Ya wis nek temenan siki cekelen pitik sing nang kurungan kae, konsisten sembelih. Mengko padha nggo dahar!” Mbah Kuncen memerintahkan Parto dan Surip untuk tiap-tiap menangkap dan memotong seekor anak ayam yang tengah makan gabah bersama induknya di didalam kurungan besar.

Dengan penuh semangat, Parto mendahului sahabatnya menangkap anak ayam. Ia menghendaki Surip untuk memegangi bagian kaki dan sayapnya, tengah tangan kirinya memegang kepala anak ayam malang itu. Ia memegang pisau dapur berkilap yang diberikan oleh Mbah Kuncen.

“Bismillahi Allohu Akbar!” Parto merapalkan do’a menyembelih ayam layaknya yang biasa dia laksanakan kalau memotong ayam di rumahnya. Saat hendak mengayunkan pisau ke leher anak ayam itu, tiba-tiba bayangan wajah Darun, anak pertamanya berkelebat muncul di bilah pisau yang berkilau.

“Astaghfirulahaladziim!”

Parto kaget dan melempatkan pisau dan membiarkan anak ayam dari tangannya. Surip pun tak kalah kaget dan ikut membiarkan pegangannya.

Sontak Parto berlari terbirit-birit muncul dari tempat tinggal Mbah Kuncen. Tanpa menoleh ke belakang lagi, ia berlari kencang ke arah mereka singgah tadi.

“Ana apa, To?” Surip kaget dan ikut berlari mengejar Parto.

“Darun, Rip! Darun!”

“Darun kenangapa?” Surip berteriak kebingunan dikarenakan Parto menyebut-nyebut nama anak pertamanya yang masih kecil.

“Ayo bali wae!” Teriak Parto mempercepat langkah untuk pulang.

Akhirnya dua Laki-laki itu pun bergegas pulang. Waktu itu belum ada angkutan supaya membutuhkan sementara dua hari supaya dua laki-laki itu sanggup kembali ke desanya. Sesampainya di rumah, Parto disambut tangisan keluarganya. Keluarga besar dan seluruh masyarakat kampungnya berkumpul di rumah.

Dilihatnya sang istri dan ibu-ibu di kampungnya tengah menangisi Darun yang tubuhnya berkelojotan di amben beralaskan kasur kapuk di kamar. Para tetua yang lain repot membacakan Surat Yasin. Ini adalah hari ketiga mereka mengaji untuk Darun yang tiba-tiba sakit keras dan nyaris meregang nyawa.

“Darun!” Pekikan Parto mengagetkan kerumunan keluarga besarnya, mereka menoleh ke asal suara. Laki-laki itu segera menghambur ke arah tubuh kecil Darun, memeluk dan mengusap kepalanya.

“Kiye wajib kelakuane deke, To!” Suara serak berkopiah hitam di kursi dekat Warsih duduk yang sedari tadi khusyuk membaca Surat Yasin menyentak keheningan. Mertua Parto percaya kalau sakitnya Darun ada hubungannya bersama kepergian mendadak Parto dan Surip yang menurut desas-desus tengah melacak pesugihan ke area kidul.

“Enggih, Pak, kulo engkang lepat,” bisik Parto lirih. Ia membenamkan wajahnya makin didalam ke kepala Darun. Gurat penyesalan dan kegalauan menghiasi wajah lelahnya. Tak jadi bulir bening mengalir bercampur bersama keringat yang membasahi rambut anak berkulit legam di pelukannya.

“Oalah, To, To! Wong ka gublug temen. Nek pingin sogeh ke kerja! Untung wae Darun ketulung!” Pria tua itu menggeram menahan amarahnya pada sang menantu yang telah melakukan tindakan bodoh hingga nyaris menjadikan cucu kesayangannya jadi tumbal pesugihan.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *