Secarik Kain Kafan di Buku “Jirih”

Secarik Kain Kafan di Buku “Jirih” – Saya keliru satu penggemar cerita misteri, dikarenakan membaca cerita misteri itu menyenangkan dan memiliki suatu hal yang kemungkinan hanya saya yang bisa merasakan bukan rasa was-was tapi tersedia sensasi lain jikalau membaca buku misteri. Tapi jangan sampai saya menyaksikan film horror dikarenakan saya tidak suka mendengar nada musiknya yang senantiasa mengagetkan.
Taruhan Bola

Kompasianer penulis cerpen misteri yang bukunya kerap saya beli adalah pak Mim, sebagian tulisannya menjadi koleksi perpustakaan mini saya. Sekarang yang berkenan saya tulis adalah buku Jirih yang penulisnya seorang kompasianer termasuk yakni G Lumakto. Saya tertarik memiliki bukunya dikarenakan yang utama adalah cerita misteri atau horror dan membayar bersama harga yang tidak ditentukan dan 50% penjualan disumbangkan oleh beliau, terhadap mereka yang rentan secara ekonomi akibat Pandemi Covid-19 di dalam wujud sembako.

Ketika buku berwarna putih datang, saya penasaran dan langsung membukanya, umumnya saya berani membaca buku misteri meski sedang malam membacanya, tapi entah kenapa kala pembatas buku itu jatuh dan saya menyaksikan secarik kain warna putih, hati saya langsung berdebar, tapi saya beranikan memegang dan menaruh di halaman paling depan.

Tapi, kala membaca halaman paling pertama yang diawali bukan dari angka satu, hati saya agak ciut membaca postingan yang di tulis pengarangnya mengenai ikatan kain kafan yang tersedia di buku itu. Saya langsung tutup buku itu dan belum berani membaca halaman berikutnya. Bandar Taruhan (Baru kali ini saya agak ciut membaca buku misteri).

Secarik kain yang dijadikan pembatas buku Jirih, membuat saya teringat dapat kematian. Entah kapan itu rahasia Tuhan, tapi antrian itu tersedia akhirnya.

Kembali terhadap buku Jirih, saya penasaran mendambakan membaca lagi bersama mengumpulkan keberanian, tapi kertas pembatas tidak saya lirik-lirik dan masih tersimpan di halaman depan. Cerita di dalam buku Jirih kumpulan cerita mini misteri, ceritanya membuat adrenaline bersama akhir cerita yang tidak di sangka-sangka. Setiap membaca buku Jirih tentu saya menoleh ke belakang, terasa tersedia yang turut baca, Hehehe.

Penulis buku Jirih sukses membuat saya degdegan bersama jalan cerita. Itulah asyiknya membaca buku misteri was-was tapi penasaran dan secarik kain terhadap kertas pembatas mengingatkan saya bahwa setiap perjalanan tentu tersedia akhirnya. Oke deh saya tunggu buku selanjutnya. Salam Literasi

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *